miliar miliar miliar miliar. adakah alam pikiran itu seperti kaleidoskop? ternyata memang kekuatan di tangan bilah-bilah manipulator. aku yang gelisah akibat kesalahan mengucap, kembali diingatkan atas kenapa aku menarik diri dari para idealis fundamentalis yang menolak untuk fleksibel terhadap peradaban yang killing me softly ini. kemudian menarik diri dari lebih banyak hal yang mematikan kepekaan terhadap fragmen. mungkin akulah yang paling tidak fleksibel, karena bersikeras menjadi diriku sendiri lengkap dengan segala tendensinya. seperti air, yang selamanya dapat mengalir membeku dan menguap, namun tidak dapat pernah berkompromi dengan lipida dan vitamin-vitamin tertentu yang tidak dapat larut di dalamnya.
apakah menghancurkan pikiran memang lebih keren daripada menghancurkan kendaraan makhluk angkasa luar dengan peluru cahaya? dengan kekuatan pikiran, debu pun bisa berubah menjadi peluru. ini luar biasa. tinggal menemukan teknik manipulasi yang paling atau paling tidak lumayan ampuh, maka debu dapat menjadi senjata. sebagaimana pemusnah massal adalah bahwa setitik kecil materi. dan pembangunan rel kereta lintas benua memakan separuh tumbalnya melalui sebotol cairan peledak. memang kini adalah zaman kekuatan pikiran. meskipun masih banyak terdapat kasus adalah bahwa atasan lebih memprihatinkan kecerdasannya daripada bawahannya. tapi mungkin itu pula yang menjadi keistimewaan pikiran. mungkin pikiran tidak mengenal hirarki. tentu saja. pikiran adalah substansi yang anarkis. begitu pula cinta kita. tapi itu tidak ada hubungannya.
labirin transnotaku, dan kuncinya yang sejak beberapa bulan yang lalu telah dimodifikasi sedemikianrupa sehingga, aku ingin segera bermain-main di sana lagi. aku akan membawa fragmen-fragmen berkesan yang kini lebih berwarna-warni, dan menanamnya dalam jantungmu. kemudian aku akan duduk manis menyaksikan pohon seperti apa yang akan tumbuh nanti. semoga januari pun akan terlewati dengan aman sentosa. meski ke sentosa island adalah bahwa jauh dari kenyataan, karena mencapai dataran dieng pun masih merupakan wacana utopis. itu adalah bahwa galau dan mellow. sungguh lagi-lagi tapi itu tidak ada hubungannya.
mungkin suatu saat simpul-simpul ini pun akan dianggap terlalu serius seiring dengan semakin signifikannya pemujaan angka-angka di dunia. ketika labirin transnota mulai memakan korban sekedar untuk dibuka gerbangnya, debucahaya mungkin saja dapat menjadi pusat dunia. ini lagi-lagi senyum kuat sang pikiran yang istimewa. padahal semua orang bisa menciptakan labirinnya masing-masing, tempatnya menetralisir ketidakseimbangan-ketidakseimbangan abstrak akibat modernitas dan posmodernitas yang lebay dan rempong. sebagaimana masing-masing individu memiliki potensi untuk keluar dari lingkaran pengulangan abadi, sebagaimana pula persepsi masing-masing individu mengenai surga idamannya adalah bahwa berbeda. kunci itu adalah sebuah bangunan yang sesungguhnya sederhana, namun apa daya kabut dan asap kini sudah terlalu tebal. tabir. prasangka. tidak perlu saling membunuh untuk menemukan kunci. meski memang homo homini lupus dan manusia itu adalah apa. tapi hei, ngomong-ngomong aku tidak percaya pada hobbes. tapi itu tidak ada hubungannya.
repetition is gorgeous indeed.
sepertinya aku terjebak dalam tren galau yang sesungguhnya adalah produk pra-revolusi itu. ohtidakbagaimanaini. namun sungguh ternyata revolusi tidak membuatku berhenti berdelusi karena memang itu hobiku sejak duduk di sekolah dasar. revolusi tidak membuatku berhenti rentan terhadap kegagalan eh tuh kan salah tulis harusnya kegalauan. dan aku merasa sungguh diperlakukan tidak adil karena satu atau lain hal tertentu.
yang jelas bahwa aku tengah bosan parah dengan kota menyebalkan ini. dimana-mana hanya jakarta yang terlihat tiap hari. aku ingin sekali menjelajahi nusantara melebihi jakarta. jika mungkin, adalah bahwa sendirian saja. namun apa daya tidak boleh pergi tanpa pengawalan. kalau bisa pakai voojrider. bagaimana pula itu berkelana menggunakan kawalan voojrider, merusak perdamaian dunia dan suasana bertualang saja. selain apa itu juga adalah bahwa suaranya merusak suasana. mengecewakan. hambatan kedua adalah bahwa biaya perjalanan dan berteduh yang konon tidak ada. kontras dengan pernyataan tersebut, baru-baru ini sang bos mampu berwisata ke mana itu di luar jakarta raya dan sudah bisa ditebak pasti belanja. itulah mengapa aku agak atau mungkin sangat merasa mengenaskan. bosan luar biasa di akhir tahun hingga kini aku merasa ultra galau dan mellow. rasanya ingin menangis, tapi apa daya masih banyak pekerjaan yang belum dituntaskan.
keinginan luar biasa untuk berkelana melebihi jakarta namun apa daya tidak bisa ini membuatku galau dan mellow. aku mencoba menghibur diri dengan mengedepankan kenyataan bahwa sesungguhnya masih banyak tempat yang belum kueksplorasi di jakarta. rupa-rupa museum, taman mini indonesia indah, gedung kesenian jakarta, salihara, dan lain sebagainya. kecuali adalah bahwa taman ekspresi gembira luka yang sesungguhnya portable dan adalah bahwa INI. meskipun acara-acara seru adalah bahwa seringkali diselenggarakan pada malam hari, padahal pulang malam kerap berarti harus membawa kawalan atau akan dimarahi BUNDO. sepuluh hari berselaput bahan bacaan kuliah dan tugas akhir semester tentunya tidak akan cukup untuk menjelajah jakarta. sebulan perbaikan proporsi tubuh pun tidak.
namun yagitudeh. aku merindukan saat-saat berjalan menelusuri jalanan yang banyak ditumbuhi pepohonan tinggi yang rindang dan teduh. dan di jakarta, hanya jakarta jakarta jakarta mobil mobil motor motor MOTOR MOTOR MOTOR, hawa neraka dan kerongkongan naga here there and everywhere. jujur sejujur-jujurnya aku bosan dengan suasana jakarta yang selain apapun juga, juga telah menyeretku dalam rupa-rupa gosip aneh. bahkan konsistensi memakai jilbab putih dan bukan warna lain akan menimbulkan gosip bahwa debucahaya berasosiasi dengan kelompok islam tertentu. mungkin ini hanyalah ekses kejenuhan akibat semester tiga di jurusan hubungan internasional yang sensasional ini. yang sensasional ini. ah..
namun baiklah. kurasa aku lebih baik merencanakan acara libur akhir tahun ini, meski di jakarta lagi di jakarta lagi. libur palsu itu, yang mana masih dilingkupi alokasi target harian bacaan kuliah dan tugas akhir semester. jika dipikirkan terus mungkin akan berdampak buruk bahkan berdampak sistemik. padahal akhir tahun hingga maret tahun berikutnya kerap menjadi periode yang rawan bagi debucahaya dalam hal tertentu. yang jelas, keinginan untuk berlibur ini menimbulkan berbagai pemikiran mulai dari rencana menabung agar dapat berlibur pada liburan semester selanjutnya hingga memulai usaha bisnis yang untungnya mungkin kecil tapi lumayan buat liburan. halah. kegalauan memang adalah bahwa sumber inspirasi.
tujuh desember. tahun baru hijriah. libur di hari selasa. rasanya damai layaknya akhir pekan. meski sesungguhnya deadline tugas ulasan matakuliah kebijakan luar negeri indonesia adalah bahwa minggu depan. maka akhir pekan ini mungkin adalah bahwa bergulat dengan otak dan berbagai referensi yang sudah dikumpulkan sebelumnya. sungguh akhir pekan yang romantis, ironis dan tragis. hingga aku sempat lupa hendak menulis apa. mungkin tentang orang-orang yang senantiasa dekat dengan kematian.
pada masyarakat yang menyematkan legitimasi ultrapositif pada bidang keagamaan, mungkin “orang-orang yang dekat dengan kematian” akan disegani kalau bukan ditakuti. dalam hal ini, bukanlah debucahaya hendak membicarakan para peminat olahraga ekstrim yang mungkin lebih cocok disebut olahadrenalin seperti apa dan apa, melainkan mereka yang kesehariannya berhadapan dan atau menyaksikan kematian. ialah para penjaga kamar mayat, petugas forensik, petugas areal pemakaman, dan sebagainya. dalam masyarakat seperti yang telah disinggung sebelumnya, mungkin profesi ini akan membuat pemiliknya menjadi religius karena terus mengingat bahwa kematian itu bisa datang kapan saja dimana saja dan intinya adalah bahwa sulit diprediksi. apabila hal tersebut terus teringat dalam kehidupan sehari-hari bersamaan dengan iman kepada kehidupan setelah kematian, seseorang tersebut mungkin akan senantiasa berusaha mempersiapkan bekal untuk melangkah menuju kehidupan setelah kematian. apabila ia percaya pada sistem karma, mungkin pula ia akan berusaha memupuk karma baik agar setelah mati nanti ia dapat dilahirkan kembali dalam keadaan yang baik.
namun kamu tahu, itu bukanlah satu-duanya kemungkinan. mungkin saja seseorang bisa bersikap biasa saja / indifferent apabila dihadapkan dengan semua itu. meskipun ia hidup di tengah masyarakat religius sekalipun. mungkin orang-orang akan berhipotesis bahwa ia memiliki kelainan mental atau semacamnya. bakat sosiopat atau psikopat yang perlu diwaspadai. tapi mungkin saja mereka berprasangka berlebihan, yang mana bahasa gaolnya adalah bahwa lebay. mungkin saja orang-orang itu benar-benar biasa saja. atau bahwa ia sependapat dengan epicurus bahwa “death should be nothing to us“. dalam dunia penuh perhitungan ini pun mungkin segalanya adalah bahwa mungkin. apapun itu, tinggal menunggu momen yang tepat. layaknya kematian.
algojo atau eksekusioner, atau mereka yang terlibat langsung dalam peperangan fisik, mereka juga dekat dengan kematian. dalam hal ini mungkin pengaruh profesi akan cukup besar terhadap perjalanan psikologisnya. atau sekali lagi tidak. yang mana meningatkanku pada sebait teori konstruktivisme yang berasumsi bahwa “identities and interests are socially constructed“. begitulah. mungkin ada hubungannya. atau tidak.
disclaimer: debucahaya tidak bermaksud melakukan pelecehan profesi. jika ada yang tersinggung mohon diberitahukan dan mohon maaf.
selain memikirkan entah siapa itu, beberapa hari belakangan ini aku terus memikirkan tips menjadi manusia mukadatar dalam dimensi tekstual, terlepas dari kenyataan bahwa aku belum terampil bermukadatar dan belum 100% menerapkan tips-tips tersebut. ide-ide dalam segelintir tips ini sebetulnya belum cukup matang, tapi setelah kurenungkan lagi aku pun merasakan ilham yang berbunyi “ya udah sih, emang ada gitu ide matang dalam adalah bahwa debucahaya?“. maka kini kuberanikan untuk menembak doi menyertakannya dalam catatan tak beraturan ini.
maka adalah bahwa yokitamari:
- kata sifat bukanlah suatu hal yang dilarang dalam seni muka datar. karena ini berarti bahwa kalimat yang bersifat penilaian bukanlah hal yang tabu. intinya adalah bahwa hindari nada emosional dalam kalimat tersebut.
- jika kata sifat bukan hal tabu, kata-kata keluhan seperti “aduh” apalagi “hadeeeeeh” adalah jenis kata yang sebaiknya dihindari. kata jenis ini merupakan kata yang menyibak emosi penulis. lagipula terlalu banyak mengeluh itu bisa menginduksi gangguan lambung orang-orang yang membaca tulisanmu. itu adalah bahwa kejahatan terselubung. dan sangat ababilesque.
- hindari ekspresi berlebihan yang melibatkan lebih dari satu apalagi dua apalagi tiga huruf vokal yang sama secara berdampingan. gaya tulisan seperti ini akan menimbulkan kesan emosi euforik atau tidak sabaran. bandingkan jika penggunaan huruf vokal berlebihan tersebut tidak dilakukan, maka akan menghasilkan efek memuji atau mencela dengan mukadatar.
- gaya bahasa ababil apalagi 4l4y adalah bahwa sebuah tidak tidak yang besar (terjemahan jelek dari “a big no-no“). gaya bahasa ini akan menimbulkan berbagai efek dari sok imut, terlalu bersemangat, labil, dan seterusnya hingga efek gagap dan atau imbisil. apapun selain mukadatar yang tenang namun mengguncang dunia.
- beberapa partikel tertentu berpotensi menghancurkan kesan mukadatar menjadi kesan sarkastis hingga nyinyir. sebenarnya kesan sarkastis dan mukadatar agak sering bersilangan dan saling rancu satu sama lain, jadi mungkin hal tersebut bisa agak dimaklumi. namun ketahuilah bahwa kesan nyinyir adalah bahwa yagitudeh. sejujurnya saya sendiri sering terjebak dalam sifat nyinyir yang adalah bahwa bawaan orok ini. tapi sudahlah. ngomong-ngomong, dua di antara pertikel tersebut adalah “sih” dan “deh”. yang lain belum kepikiran.
- hindari pula pemakaian emoticon dan berbagai karakter tekstual khusus yang kini semakin marak digunakan terutama oleh para pengguna blackberry. terutama adalah bahwa penggunaan konvoi emoticon dan karakter khusus yang ternyata oh ternyata hanya bermakna “hahaha”, “hehehe”, “hihihi” atau “ooo”. selain menghancurkan kesan mukadatar juga adalah bahwa menjatuhkan wibawa dan menimbulkan kesan 4l4y.
- hindari ekspresi tawa yang eksesif, namun hindari pula ekspresi tawa yang minimalis. ekspresi tawa yang eksesif dan abnormal akan menimbulkan kesan euforik dan bercanda tanpa niat menggunakan trik mukadatar. sementara itu, ekspresi tawa yang minimalis akan menimbulkan kesan sinis. tiga suku kata ekspresi tawa standar saja sudah cukup.
- perhatikan penggunaan tanda baca. hindari penggunaan lebih dari satu tanda tanya atau tanda seru secara berdampingan. lebih jauh lagi, hindari penggunaan tanda seru karena akan menimbulkan kesan marah.
- berlatihlah menggunakan bahasa formal yang baik dan mendingan karena hal itu tidak hanya menunjang keterampilan seni mukadatar melainkan juga menunjang hal apapun juga yang melibatkan proses komunikasi.
ya, begitu dulu. selebihnya belum terpikir lagi. maka adalah bahwa sekian dulu untuk sekarang. begitu.
mereka begitu berapi-api berkonfrontasi dengan banyak hal tanpa kompromi dan kuatir masa depan. aku iri kepada mereka yang begitu sulit dijinakkan peradaban. meski jujur sejujur-jujurnya aku lebih iri pada mereka yang berbakat muka datar bawaan. mereka yang sulit dijinakkan itu sepertinya terus saja bersemangat dan tidak pernah tua, meskipun mereka tidak terlalu sering dikelilingi anak kecil. ya, pagi ini dosen komunikasi internasionalku mengatakan bahwa membiarkan diri dikelilingi orang muda akan membuat diri menjadi sulit tua. memikirkan tentang mereka yang begitu sulit dijinakkan peradaban itu membuatku jadi agak meragukan tips sang dosen.
sesungguhnya yang paling kutakutkan kini adalah bahwa paragraf ini menjadi bernada galau. aku pernah mengalami masa ketika aku benar-benar marah pada peradaban. namun kini meskipun aku kerap memberontak terhadap beberapa hal, aku cenderung membawa diri dan melebur dalam peradaban meskipun tidak sepenuhnya. memang kemelekatan itu hanya menyengsarakan diri. bahkan melekatkan diri pada tuntutan untuk memberontak tanpa kompromi pun akan menyengsarakan diri.
mungkin waktu itu aku bukan depresi. hanya dilanda kegalauan raksasa yang membuatku merasa seperti memikul bola dunia betulan. padahal katanya galau is so 2002…
sebagaimana yang kunyatakan dalam twitter beberapa hari yang lalu, sepertinya seru banget kalau seseorang itu sulit dibedakan antara ketika tengah bercanda dan ketika tengah serius. masalahnya mungkin ia akan menjadi kerepotan ketika orang yang salah tafsir perilaku multitafsirnya tersebut menanggapinya dengan berlebihan. namun bagaimanapun juga, menurutku ini keren. dan memang telah menjadi resiko orang keren pada umumnya untuk direpotkan. meski kemudian orang-orang ultra keren akan menanggapi kerepotan itu dengan cara yang keren sehingga dia tidak lagi kerepotan terlalu banyak. ngomong-ngomong, bukan berarti aku mengklaim diri menjadi orang ultra keren. aku mungkin bukan orang ultra keren atau pun ultraman. ultraman-ja sih mungkin…
karakteristik yang mana seseorang sulit dibedakan antara bercanda atau tidak itu salah satunya didukung oleh penguasaan seni mukadatar. selain mungkin tradisi diskoneksi maksimal dan pengalaman atau berbagai kejadian yang perlahan tapi pasti menciptakan legitimasi tertentu. menurutku, seni mukadatar itu …keren banget… . itu adalah ketika seseorang bisa bercanda secanda-candanya tanpa menampakkan senyum samar sekalipun. ketika seorang senior bisa menegur juniornya dengan teguran yang pelan, namun melesat tepat dan menusuk tanpa ampun, dengan nada yang ultradatar dan muka yang tidak kalah datarnya. meminjam istilah darinya, “ramah tapi eksplosif”. sungguh itu adalah bahwa keren dan aku ingin menguasainya. mungkin tidak perlu sampai ke ranah penguasaan seni teater noh. seni mukadatar level awal saja sudah cukup untuk bikin hidup lebih hidup.
meskipun demikian, kini dalam era digital sebenarnya seni mukadatar tidak cukup meyakinkan hanya dengan keterampilan menyembunyikan kerut-kerut emosi pada wajah secara fisik. mungkin itu cukup jika kita hanya bergaul dalam ranah fisik bukan tekstual misalnya melalui pesan pendek maupun bbm apalagi facebook, twitter, terlebih lagi blog. untuk menciptakan legitimasi mukadatar dalam pesan-pesan atau pergaulan tekstual, dibutuhkan keahlian untuk menulis hal-hal yang berkaitan dengan keseharian tanpa siratan emosi yang berlebihan. sedikit saja pun kurang meyakinkan jika kita ingin menciptakan legitimasi mukadatar dalam pergaulan digital.
mungkin keahlian ini akan cukup banyak terasah jika kita sudah terlanjur terdidik untuk menjadi ilmuwan yang dituntut untuk pandai menulis dalam bahasa ilmiah yang dingin dan kering budaya. namun itu hanyalah faktor keberuntungan, sebagaimana beberapa orang cukup beruntung karena memiliki bakat mukadatar bawaan. sebagaimana keahlian lainnya, yang dibutuhkan adalah kemauan, minat dan latihan. berlatih itu perlu meski kerap tidak sempat. begitulah.
ngomong-ngomong, jika pernyataan multitafsir itu kerap disebut “pernyataan bersayap”, apakah wajah multitafsir bisa disebut “wajah bersayap”? tapi agak kedengaran mengerikan juga ya…